Kamis, 19 April 2012

KARANGANYAR dan LIVERPOOL




Lebih dari 13 tahun aku tak mengunjungi Lawu. Lawu dan aku seperti sahabat, 3 tahun lebih hampir setiap pagi aku selalu melihat keelokan parasnya..bahkan saat purnama keindahan itu tak tergambarkan. 
Sungguh semua lukisan kesedihan dan gembira dalam mengarungi kehidupan ini banyak tertoreh di kaki Lawu. Sahabat-sahabat terbaik dalam hiduppun aku peroleh disini. Di Karanganyar aku merasa terlahir kembali, setelah terpuruk hancur dalam bingkai kehidupan masa lalu. 
Puing-puing asa yang masih tersisa kembali terangkai.

Liverpool adalah nama kost yang pernah kami tinggali kurang lebih 2 tahun. Nama Liverpool diberikan oleh Said, sebagai Kepala Suku kost. Lokasinya tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Karanganyar, tempat biasa kami menghabiskan sisa – sisa malam. Bagiku tinggal di tempat kost yang eksentrik dengan berbagai karakter penghuninya merupakan frase paling indah dalam perjalanan hidup. Penghuninya ada 8 orang. Kanang dari Ngawi seniman idealis, Hasan dari Wonogiri sang Ketua Senat dan anak band, Said dari Jebres Solo mahasiswa tertua yang berpenampilan mirip slash tapi nggak bisa main gitar, Bayu kartunis dari Wonogiri, Berdu dari Kartosuro dimana dunianya terbalik siang dia tidur,kalo malam justru hidup, Riko anak Jakarta pendiam yang salah habitat satu rumah dengan para manusia bergaya seniman, Sadeng dari klaten seniman yang nggak jelas. 
Tempat kost Liverpool memang didominasi oleh anak-anak Desain, jadi gayanya kental dengan jarang mandi cuma gosok gigi .Para penggembira kost liverpool yang jumlahnya lumayan banyak. Belum termasuk anak gadis seberang kamar Kost lumayan bening, buat hiburan anak-anak. Namanya feby. Dimana kami sering didamprat ibunya feby gara-gara anak gadisnya keseringan dipinjami motor dan kalo main ke tempat kost masuknya lewat jendela kamar belakang (jendelanya berhadapan dengan jendela kamar feby). Satu hal lagi yang tidak kalah hebohnya adalah ayam tetangga yang tiap pagi rajin setor telur ,lumayan buat sarapan.

Sebagai Anak Kost, cerita tentang terlambat bayar sewa rumah pasti kami alami juga dan terpaksa kami sembunyi. Ada yang numpang tidur ditempat kost lain .Tetapi sebagian dari kami tetap di Liverpool dengan cara mengunci rapat semua pintu dan jendela serta mematikan lampu, yang seolah-0lah penghuninya pada minggat, padahal kami masih hidup didalam. 

Waktupun akhirnya memisahkan kami,Sekarang kami sibuk dengan dunia masing-masing. Hanya sesekali bertemu, lewat facebook ,telpon ata pun saling berkunjung.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar